Hukum Menggantung Lukisan

Hukum Menggantung Lukisan

Pertanyaan:
Apa hukum menggantung lukisan di rumah dan tempat-tempat lainnya?

 

Jawaban:

Oleh Syaikh Ibnu Baz

Hukumnya adalah haram jika gambar tersebut adalah gambar makhluk bernyawa, baik manusia atau selainnya, karena Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda,

“Janganlah engkau tinggalkan patung kecuali engkau telah membuatnya menjadi tidak berbentuk, dan jangan pula meninggalkan kuburan yang menjulang tinggi kecuali engkau meratakannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya: Muslim dalam al-Janaiz (969)), dan hadits yang ditegaskan dari Aisyah رضي الله عنها, “Sesungguhnya Aisyah telah membeli bantal kecil untuk hiasan yang di dalamnya terdapat gambar. Ketika Rasulullah melihat bantal tersebut, beliau berdiri di depan pintu dan enggan untuk masuk seraya bersabda,

إِنَّ أَصْحَابَ هذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pemilik gambar ini akan diadzab dan akan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah engkau ciptakan’.” (Al-Bukhari dalam bab Tauhid (Keesaan Allah) (7557); Muslim dalam bab al-Libas (96-2107)).

Akan tetapi jika lukisan tersebut dilukis pada permadani yang digunakan untuk tempat berpijak, atau bantal yang digunakan sebagai alat untuk bersandar, maka hal itu diperbolehkan. Dalam sebuah hadits dari Nabi صلی الله عليه وسلم, bahwa ketika Jibril hendak mendatangi rumah beliau, dia enggan memasuki rumah, maka Nabi صلی الله عليه وسلم bertanya dan dijawab oleh Jibril,

أَنَّهُ كَانَ فيِ الْبَيْتِ قِرَامُ سِتْرٍ فِيْهِتَمَاثِيْلُ وَكَانَ فيِ الْبَيْتِ كَلْبٌ فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِيْ فيِ الْبَيْتِ يُقْطَعُ فَيَصِيْرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَةِ وَمُرْ بِالسِّتْرِ فَلْيُقْطَعْ فَلْيُجْعَلْ مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ مَنْبُوْذَتَيْنِ تُوْطَآنِ وَمُرْ بِالْكَلْبِ فَلْيُخْرَجْ

“Di dalam rumah itu terdapat tirai dari kain tipis yang bergambar patung dan di dalam rumah itu terdapat seekor anjing. Perintahkan agar gambar kepala patung yang berada di pintu rumah itu dipotong sehingga bentuknya menyerupai pohon, dan perintahkan agar tirai itu dipotong dan dijadikan dua buah bantal untuk bersandar dan perintahkan agar anjing itu keluar dari rumah.” (At-Tirmidzi dalam bab al-Adab (2806)).

Maka Nabi صلی الله عليه وسلم melaksanakan perintah tersebut sehingga Jibril masuk ke dalam rumah itu. Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan sanad yang baik. Dalam hadits tersebut bahwa anjing itu adalah anjing kecil milik Hasan atau Husain yang secara sembunyi-sembunyi tinggal di dalam rumah itu. Dalam sebuah hadits shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم, beliau bersabda,

لاَ تَدْخُلُ اْلمَلاَئِكَةُ بَيْتاً فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَ صُوْرَةٌ

“Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau lukisan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Kisah tentang malaikat Jibril di atas menunjukkan bahwa gambar atau lukisan yang ada dalam permadani atau yang semacamnya tidak menyebabkan malaikat enggan memasuki suatu rumah, di mana hal itu ditegaskan dalam hadits shahih dari Aisyah bahwa ia menjadikan tirai seperti yang disebutkan di atas menjadi bantal yang gunakan Nabi صلی الله عليه وسلم untuk bersandar.

Sumber:
Ibn Baz,Kitab ad-Da’wah, hal. 19-20.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Kategori: Tashwir
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 24, 2013, in Tashwir. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: