Hukum Lukisan dan Patung

Hukum Lukisan dan Patung
Pertanyaan:
Apa hukum melukis sesuatu yang bernyawa? Apakah melukis termasuk dalam keumuman hadits qudsi yang berbunyi, “Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang menciptakan makhluk seperti makhluk ciptaanKu, (kalau ia sanggup) maka hendaklah ia menciptakan sebutir atom, atau sebutir biji, atau sebutir gandum.”[1]

 

Jawaban:

Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin

Benar, melukis termasuk dalam keumuman hadits tersebut di atas. Tetapi yang dimaksud menciptakan makhluk di sini ada dua macam: Menciptakan makhluk yang memiliki raga (wujud) disertai sifat, contohnya seperti patung, dan menciptakan makhluk yang hanya memiliki sifat tanpa raga (wujud), seperti gambar yang dituangkan ke dalam kanvas (lukisan).

Kedua bentuk gambar di atas masuk dalam kategori yang dimaksudkan di dalam hadits itu. Sesungguhnya melukis tidak ubahnya seperti juga memahat, meskipun hadits tersebut lebih condong kepada mereka yang menciptakan raga (seperti para pemahat yang menciptakan patung dengan bentuk tubuh yang utuh) karena mengumpulkan dua perkara yakni penciptaan raga (wujud) sekaligus sifat. Segala macam bentuk penggambaran dengan menggunakan tangan hukumnya adalah haram, baik itu berupa pahatan ataupun lukisan. Keumuman hadits nabi yang melaknat para pembuat gambar menunjukkan tidak adanya perbedaan antara bentuk pahatan atau pun lukisan yang tidak akan berwujud kecuali bila telah dituangkan ke dalam kanvas. Menghindarkan diri untuk tidak membuat penggambaran atau penyerupaan dari makhluk yang bernyawa adalah lebih terpelihara dan lebih terjaga. Tetapi sebagian orang berdalih, “Bukankah lebih terpelihara bila kita mengikuti apa yang tertuang dalam nash dan bukan mengikuti yang berlebihan?” Benar bahwa kita lebih terpelihara bila mengikuti apa yang tertuang di dalam nash dan tidak mengikuti yang berlebihan, tetapi jika ada satu lafazh yang umum (seperti dalam hadits qudsi di atas) yang pengertiannya bisa ini dan itu (sangat luas cakupannya), maka akan lebih terpelihara dan lebih terjaga apa bila kita mengambil keumuman hadits tersebut. Sesungguhnya hal ini sangat cocok dengan hadits yang menerangkan tentang pembuatan gambar, maka seseorang tidak boleh melukis suatu gambar yang bernyawa, baik manusia ataupun makhluk lainnya. Karena hal itu masuk dalam kelaknatan para pembuat gambar. Semoga Allah memberi petunjuk.

_________
Footnote:
[1] Al-Bukhari, bab at-Tauhid (7559); Muslim, bab al-Libas (2111).Rujukan:
Al-Majmu’ ats-Tsamin, juz 1 hal. 200, Ibn Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Kategori: Tashwir
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 23, 2013, in Tashwir. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: