Hukum Bersumpah Atas Nama Selain Allah

Hukum Bersumpah Atas Nama Selain Allah

Pertanyaan:
Apa hukum bersumpah atas nama selain Allah سبحانه و تعالى Padahal telah diriwayatkan dari Nabi صلی الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda, “Sungguh, demi ayahnya! telah beruntunglah dia, jika dia benar (sungguh-sungguh).” (Muslim dalam kitab Al-Iman (9-11)).

 

Jawaban:

Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin
Bersumpah atas nama selain Allah سبحانه و تعالى, seperti mengatakan “Demi hidupmu”, “Demi hidupku” “Demi Tuan Pimpinan” atau “Demi Rakyat”, semua itu diharamkan bahkan termasuk syirik sebab jenis pengagungan seperti ini hanya boleh dilakukan terhadap Allah سبحانه و تعالى semata. Barangsiapa yang mengagungkan selain Allah dengan suatu pengagungan yang tidak layak diberikan selain kepada Allah, maka dia telah menjadi Musyrik. Akan tetapi manakala si orang yang bersumpah ini tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah, maka dia tidak melakukan syirik besar tetapi syirik kecil. Jadi, barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan kecil.

Dalam hal ini, Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda,

“Sesungguhnya Allah سبحانه و تعالى melarang kalian bersumpah atas nama nenek moyang kalian; barangsiapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau lebih baik diam. “ (Al-Bukhari secara ringkas dalam kitab Manaqib Al-Anshar (3836); Muslim di dalam kitab Al-Iman (III:1646)).

Beliau juga bersabda,
“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan. ” (Abu Daud dalam kitab Al-Iman (3251); At-Tirmidzi dalam kitab An-Nudzur (1535)).

Oleh karena itu, janganlah bersumpah atas nama selain Allah, siapa dan apapun sesuatu yang dijadikan sumpah tersebut sekalipun dia adalah Nabi صلی الله عليه وسلم, Jibril atau para Rasul lainnya, malaikat atau manusia. Demikian juga mereka yang di bawah kedudukan para Rasul. Jadi, janganlah bersumpah atas nama sesuatupun selain Allah سبحانه و تعالى

Sedangkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم,

أَفْلَحَ وَأَبِيْهِ إِنْ صَدَقَ

“Sungguh, demi ayahnya! telah beruntunglah dia, jika dia benar (sungguh-sungguh). “

Kata وَأَبِيْهِ (Demi Ayahnya) tersebut masih diperselisihkan oleh para Hafizh (Ulama yang banyak menghafal hadits). Di antara mereka ada yang mengingkari lafazh semacam itu dan menyatakan “Tidak shahih berasal dari Nabi صلی الله عليه وسلم.” Berdasarkan statement ini, maka tema yang dipertanyakan tersebut tidak jadi masalah lagi sebab suatu Mu’aridh (lafazh yang bertentangan maknanya dengan lafazh yang lebih masyhur, pent.) harus efektif (sehingga dapat berlaku), sebab bila tidak demikian, maka dia tidak dapat diberlakukan dan tidak ditoleh alias tidak dapat dijadikan acuan.

Akan tetapi berdasarkan statement bahwa kalimat وَأَبِيْهِ tersebut valid, maka jawaban atasnya adalah bahwa ini termasuk Musykil (sesuatu yang rumit) sementara masalah bersumpah atas nama selain Allah termasuk Muhkam (sesuatu yang valid/jelas) sehingga kita memiliki dua hal; Muhkam dan Mutasyabih (yang masih samar). Dan cara yang ditempuh oleh para ulama yang mumpuni keilmuannya dalam hal ini adalah dengan meninggal-kan yang Mutasyabih tersebut dan mengambil yang Muhkam. Hal ini senada dengan firmanNya,

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata,”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (Ali Imran:7).

Dan sisi kenapa ia dikatakan sebagai Mutasyabih, karena di dalamnya terdapat banyak sekali kemungkinan-kemungkinan; bisa jadi, hadits tersebut ada sebelum datangnya larangan tentang hal itu. Bisa jadi juga, ia khusus bagi Rasulullah صلی الله عليه وسلم saja (di dalam mengungkapkan lafazh seperti itu, pent.) karena beliau sangat jauh dari melakukan kesyirikan. Bisa jadi pula, ia hanya merupakan sesuatu yang terbiasa diucapkan lisan tanpa maksud sebenarnya. Nah, manakala terdapat kemungkinan-kemungkinan semacam ini terhadap dimuatnya kalimat tersebut -jika ia memang shahih berasal dari Rasulullah صلی الله عليه وسلم, maka menjadi kewajiban kita untuk mengambil sesuatu yang sudah Muhkam, yaitu larangan bersumpah atas nama selain Allah.

Akan tetapi terkadang ada sebagian orang yang mempertanyakan, “Sesungguhnya bersumpah atas nama selain Allah telah terbiasa diucapkan lisan dan sangat sulit untuk meninggalkan-nya.” Apa jawabannya?

Kita katakan, sesungguhnya ini bukanlah suatu hujjah akan tetapi seharusnya berjuanglah melawan diri anda untuk mening-galkan dan keluar dari kebiasan tersebut.

Saya ingat dulu pernah melarang seorang laki-laki mengatakan وَالنَّبِيِّ (Demi Nabi). Ketika itu dia mengucapkan sesuatu kepadaku sembari berkata, “Demi Nabi, aku tidak akan mengulangi-nya.” Dia mengucapkan ini hanya untuk menguatkan bahwa tidak akan melakukannya lagi akan tetapi terbiasa diucapkan lisannya. Maka, kami katakan “Berusahalah semampumu untuk menghapus ucapan seperti itu dari lisanmu sebab ia adalah perbuatan syirik sedangkan perbuatan syirik amat besar bahayanya sekalipun kecil.” Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah bahkan pernah berkata, “Sesungguhnya kesyirikan tidak akan diampuni Allah sekalipun kecil.”

Ibnu Mas’ud -rodliallaahu’anhu-, berkata, “Sungguh, bahwa aku bersumpah atas nama Allah dalam kondisi berdusta adalah lebih aku sukai daripada aku bersumpah atas nama selainNya dalam kondisi jujur.”

Syaikhul Islam mengomentari, “Hal itu, karena keburukan perbuatan syirik lebih besar (akibatnya) ketimbang keburukan dosa besar.”

Sumber:
Fatawa Syaikh al-Utsaimin, Jld.I.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.

Kategori: Sumpah – Nadzar
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 22, 2013, in Sumpah-Nadzar. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: