Standar Panjang Dan Pendeknya Shalat Adalah Sunnah, Bukan Selera

Standar Panjang Dan Pendeknya Shalat Adalah Sunnah, Bukan Selera
Pertanyaan:
Ada makmum yang mengeluh kepada saya karena saya terlalu lama berdiri setelah ruku (yakni saat i’tidal). Saat itu memang saya membaca dzikirnya dengan lengkap, yaitu (dst. ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه), apakah ada doa ringkas yang bisa dibaca saat bangkit dari ruku sehingga kami tidak memberatkan para makmum?

 

Jawaban:

Oleh Beberapa Ulama

Yang wajib bagi imam dan setiap orang yang melaksanakan suatu tugas adalah mengikuti as-Sunnah (tuntunan Rasulullah صلی الله عليه وسلم), bukan mengikuti seseorang sehingga bertolak belakang dengan as-sunnah. Jika terpaksa dan kondisi menuntut, tidak apa-apa sekali-sekali meringankan sedikit, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi صلی الله عليه وسلم. Adapun dalam kondisi yang berkesinambungan, maka mengikuti as-Sunnah menjadi tuntutan dalam mengimami. Karena itu, teguhlah dalam melaksanakan as-Sunnah dan beritahukan para makmum, bahwa, jika mereka bersabar dalam hal ini, niscaya akan mendapat pahala orang-orang yang bersabar dalam mentaati Allah. Jika memperpendek dan memperpanjang bacaan diserahkan kepada kecenderungan manusia, maka umat ini akan berpecah belah menjadi beberapa kelompok, karena yang terasa sedang bagi sebagian orang bisa terasa panjang bagi sebagian yang lain. Maka hendaknya anda berpedoman kepada as-Sunnah, dan itu mudah untuk diketahui, alhamdulillah.

Untuk itu, kami nasehatkan kepada setiap imam yang mengimami kaum Muslimin di masjid-masjid agar merujuk pada bacaan yang telah dituliskan oleh para ulama tentang sifat shalat Nabi صلی الله عليه وسلم, di antaranya adalah kitabus shalah karya Ibnu Qayyim, buku ini cukup terkenal, juga yang beliau sebutkan dalam buku zaadul ma’ad fi huda khairil ‘ibad.

Kitab Ad-Da’wah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin (2/90-91).

Pertanyaan:
Kami jamaah masjid besar di universitas al-Malik Sa’ud, dan kami rata-rata mahasiswa, yang kami lakukan seputar belajar dan ujian. Kami sering berpeda pendapat dengan imam masjid mengenai panjang dan pendeknya bacaan shalat. Apakah masalah meringankan bacaan yang ditunjukkan oleh as-Sunnah bersifat relatif? Bagaimana ukuran yang tepat dalam setiap shalat, terutama dalam shalat jahr (shalat yang bacaannya nyaring)?

Jawaban:
Ya, tentang ringannya bacaan shalat sifatnya relatif. Hal ini berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم dan bacaan selain beliau serta petunjuk beliau tentang bacaan shalat. Sebab larangan memanjangkan bacaan adalah kisah Muadz yang saat itu telah melaksanakan shalat Isya’ bersama Nabi صلی الله عليه وسلم yang biasanya menunda pelaksanaan shalat Isya hingga sekitar dua hingga tiga jam setelah terbenam matahari. Setelah itu Muadz kembali kepada kaumnya di pedalaman, dan baru shalat bersama mereka setelah satu jam kemudian.

Perlu diketahui, bahwa orang-orang yang shalat bersama Muadz itu mayoritas para pekerja di ladang dan kebun mereka, tentunya mereka sudah capai dan lelah sepanjang siang, tubuh mereka pun sudah kepayahan. Sudah barang tentu panjangnya bacaan menjadi beban tersendiri bagi mereka. Memang Muadz kadang memanjangkan bacaan, adakalanya ia membaca surat al-Baqarah. Mereka itulah yang mengadukan perkara ini kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, lalu beliau pun melarangnya dan memerintahkannya untuk bersikap lembut kepada mereka, yaitu dengan membaca surat-surat yang sedang;(إذا السماء انشقت، إذا السماء انفطرت، إذا الشمس كورت، والسماء ذات البروج، سبح اسم ربك الأعلى) [1] dan sebagainya, semua itu tidak mengapa untuk kondisi tersebut.

Adapun meringankan yang berlebihan, maka itu suatu kesalahan, karena tidak ada dalilnya dalam hadits. Sedangkan yang ada dalilnya adalah, bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم memanjangkan bacaan, sebagaimana yang dikatakan oleh Anas -rodhiallaahu’anhu-, “Beliau menyuruh kami meringankan bacaan, dan beliau mengimami kami dengan membaca ash-shaffat.” (HR. An-Nasa’i dari Anas, hadits shahih).[2]

Tidak diragukan lagi, bahwa ini menjelaskan tindakan beliau, dan tindakan beliau itu menjelaskan perkataannya. Kesimpulannya, bahwa surat ash-shaffat itu termasuk ringan. Jadi beliau menyuruh untuk meringankan bacaan, yaitu agar tidak membaca surat-surat yang panjang, seperti; surat an-Nahl, Yusuf, at-Taubah dan sebagainya. Dengan demikian, surat ash-shaffat termasuk bacaan yang ringan.

Terkadang Nabi صلی الله عليه وسلم shalat mengimami mereka dengan membaca antara 60 sampai 100 ayat dalam shalat Shubuh [3], yaitu dari antara surat-surat yang sedang, bukan dari surat-surat yang pendek, seperti; surat al-Ahzab (73 ayat), al-Furqan, an-Naml, an-Ankabut dan sebagainya. Surat-surat tersebut berkisar antara 60 hingga 100 ayat. Jika membacanya, maka itulah bacaan yang sedang. Jika para makmum tidak kuat, maka bisa dengan surat-surat yang ringan. Dalam shalat Shubuh bisa membaca surat Qaf hingga al-Mursalat. Inilah bacaan yang pertengahan, tidak boleh diingkari orang yang mengikuti cara ini.

Al-Lu’lu’ Al-Makin, Syaikh Ibnu Jibrin, hal. 119-120.

_________
Footnote:
[1] Al-Bukhari, kitab al-Adzan (700, 701), lihat (no. 705, 711, 6106), Muslim, kitab ash-Shalah (465).
[2] An-Nasa’i, kitab al-Imamah (826), Ahmad (4781, 4969, 6435).
[3] Muslim, kitab ash-Shalah (461).
Rujukan:
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Kategori: Shalat
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 21, 2013, in Sholat. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. ASSALAMUALAIKUM USTAD…
    Intan mau tanya apakah bacaan dalam shalat perlu diperhatikan panjang pendeknya?? dan apakah setiap bacaan dalam shalat harus dipahami pengertian dari bacaan shalat tersebut??
    mohon jawabannya ustad WASSALAMUALAIKUM WR.WB

    • ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ

      sebagaimana ilmu yang pernah saya pelajari, 1. hendaklah kita semua berusaha untuk mempelajari tajwid ( panjang pendek bacaan al-qur’an, kita bisa berdosa jika sengaja membaca al-quran tanpa tajwid), baik dalam sholat maupun diluar sholat 2. jika mampu maka ini lebih baik, Allahu Waliyutaufiq

      jika kurang jelas boleh tanyakan dengan ustad (aq bukan ustad lo) salah satu linknya http://dzulqarnain.net/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: