Memberi Kode Kepada Imam Agar Menunggu

Memberi Kode Kepada Imam Agar Menunggu
Pertanyaan:
Kami lihat sebagian orang yang masuk masjid berdehem, yaitu ketika imam sedang ruku’, dengan maksud agar kedengaran oleh imam sehingga menunggunya, atau mengatakan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Lalu berjalan cepat agar bisa mendapatkan rakaat tersebut bersama imam. Bagaimana hukumnya?

 

Jawaban:

Oleh Beberapa Ulama

Perbuatan ini bertolak belakang dengan etika masuk masjid, karena dalam hal ini seorang Muslim diperintahkan untuk berjalan menuju shalat dengan tenang, apa yang didapatinya, itulah yang diikuti, adapun yang tertinggal, maka disempurnakan, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits, bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا

“Jika kalian mendatangi shalat, maka hendaklah dengan tenang (tidak tergesa-gesa), apa yang kalian dapati, ikutilah, dan yang terlewatkan maka sempurnakanlah.” [1]

Dalam hadits lain disebutkan, bahwa beliau bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقَامَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَالْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوْا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا

“Jika kalian mendengar iqomah, berangkatlah untuk shalat, dan hendaklah kalian tenang (tidak tergesa-gesa) dan sopan. Janganlah kalian terburu-buru, apa yang kalian dapati, ikutilah, dan yang terlewatkan maka sempurnakanlah.” [2]

Adapun melakukan hal-hal yang tidak disyariatkan Allah, maka tidak ada kebaikan padanya. Jika itu baik, tentu orang-orang sebelum kita telah lebih dulu melakukannya. Lain dari itu, perbuatan tersebut bisa mengganggu orang lain yang sedang shalat dan mengganggu kekhusyu’an mereka.

Fatawa Mu’ashirah, Ibnu Jibrin, hal. 21.

Pertanyaan:
Saya mendengar ada orang yang jika masuk ke masjid ketika imam sedang ruku, ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” agar imam memanjangkan rukunya sehingga ia bisa mendapatkan rakaat tersebut. Apakah ini boleh?

Jawaban:
Ini tidak ada dasarnya dan tidak pernah terjadi pada masa sahabat -rodhiallaahu’anhu-, tidak pula berasal dari petunjuk mereka. Lain dari itu, perbuatan ini bisa mengganggu orang-orang yang sedang shalat ber-sama imam, padahal mengganggu orang yang sedang shalat itu terlarang, karena gangguan tersebut bisa melengahkan mereka.

Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Nabi صلی الله عليه وسلم menemui para sahabatnya, saat itu mereka sedang shalat dengan menyaringkan bacaan, lalu beliau melarangnya, beliau bersabda,

لاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan al-Qur’an kepada sebagian yang lain.” [3]

Dalam hadits lain disebutkan,

لاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءةِ

“Janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian lainnya, dan janganlah sebagian kalian mengencangkan bacaan al-Qur’an kepada sebagian sebagian lainnya.” [4]

Ini menunjukkan bahwa setiap yang dapat mengganggu para makmum dalam shalat adalah terlarang, karena hal tersebut dapat mengganggu dan menghalangi di antara orang yang shalat dan shalatnya.

Adapun imam, para ahli fiqih -rohimahullah- mengatakan, “Jika merasakan adanya orang yang baru masuk untuk shalat, maka hendaknya ia menunggu, terutama pada rakaat terakhir, karena dengan rakaat terakhir itulah bisa diperolehnya pahala jamaah.” Hal ini berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat shalat berarti ia telah mendapatkan shalat tersebut.” [5]

Tapi jika hal tersebut bisa memberatkan bagi makmum lainnya, maka tidak perlu menunggu, sebab mereka lebih berhak daripada yang baru datang, karena mereka lebih dulu masuk.

Mukhtarat Min Fatawa ash-Shalah, hal. 73, Syaikh Ibnu Utsaimin.

_________
Footnote:
[1] Al-Bukhari, kitab al-Adzan (635), Muslim, kitab al-Masajid (603).
[2] Al-Bukhari, kitab al-Adzan (636), Muslim, kitab al-Masajid (603).
[3] HR. Malik, kitab Shalat (29).
[4] HR. Abu Dawud, kitab Shalat (1332).
[5] Al-Bukhari, kitab al-Mawaqit (580), Muslim, kitab al-Masajid (607).Rujukan:
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Kategori: Shalat
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 19, 2013, in Sholat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: