Propaganda Pendekatan Antar Agama dan Kelompok Sesat

Propaganda Pendekatan Antar Agama dan Kelompok Sesat
Pertanyaan:
Apakah propaganda mendekatkan antar agama-agama (Islam-Nashrani-Yahudi) merupakan seruan syariyah, dan apakah boleh seorang muslim yang benar-benar beriman untuk ikut menyerukannya dan berbuat untuk menguatkannya? Saya dengar, bahwa para ulama Al-Azhar dan orang-orang yang bekerja pada lembaga-lembaga Islam ada yang melakukan semacam itu. Kemudian, apakah mendekatkan hubungan antara kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah, dengan golongan-golongan syiah, darziyah, Ismailiyah, Nashiriyah dan lainnya bermanfaat bagi kaum muslimin? Apa mungkin diadakan pertemuan semacam ini atau yang lebih dari itu diadakan bersama Ahlus Sunnah wal Jamaah, sementara masing-masing kelompok mengusung keyakinannya yang mempersekutukan Allah, durhaka terhadap RasulNya dan dengki terhadap Islam? Apakah pertemuan semacam ini dan pendekatan ini dibolehkan secara syari’

 

Jawaban:

Oleh Lajnah Daimah

Pertama: Dasar-dasar keimanan yang diturunkan Allah kepada para rasulNya telah ditetapkan dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an, yaitu yang diserukan oleh para Ibrahim, Musa, Isa dan para nabi serta rasul lainnya. Semuanya sama, yang lebih dulu memberitakan yang kemudian dan yang kemudian membenarkan pendahulunya, meneguhkannya dan menguatkannya walaupun ada perbedaan pada beberapa hukum cabang secara umum sesuai dengan tuntutan kondisi dan zaman serta demi kemaslahatan para hamba sebagai hikmah, kebijaksanaan dan rahmat serta fadhilah dari Allah سبحانه و تعالى.

Allah سبحانه و تعالى berfirman,
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya’, dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami ta’at’. (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285).

Dalam ayat lainnya disebutkan, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para RasulNya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 152).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianKu terhadap yang demikian itu.’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui’. Allah berfirman ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu’. Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (Ali Imran: 81-83).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepadaNya-lah kami menye-rahkan diri’. Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi’.” (Ali Imran: 84-85).

Allah pun berfirman setelah menyebutkan dakwah khalil-Nya Ibrahim kepada tauhid dan menyebutkan para rasul yang bersamanya,
“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesung-guhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an)’. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.” (Al-An’am: 89-90).

Dalam ayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 68).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif’. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (An-Nahl: 123).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan, “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata, ‘Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)’.” (Ash-Shaff: 6).

Dan dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepa-damu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Ma’idah: 48).

Diriwayatkan dari Nabi صلی الله عليه وسلم, bahwa beliau bersabda
“Aku manusia yang lebih dulu terhadap Isa bin Maryam di dunia dan di akhirat. Dan para nabi itu saudara sebapak walaupun ibu-ibu mereka berbeda tapi agama mereka sama.” (HR. Al-Bukhari dalam Ahadits Al-Anbiya’ (3443), Muslim dalam Al-Fadha’il (2365)).

Kedua: Kaum Yahudi dan Nashrani telah merubah perkataan dari tempat yang sesungguhnya dan mengganti perkataan dengan perkataan lain yang tidak dikatakan kepada mereka, sehingga dengan begitu mereka telah merubah dasar-dasar agama mereka dan syari’at-syari’at Rabb mereka. Di antaranya adalah ucapan kaum Yahudi, “Uzair putra Allah” dan mereka mengklaim bahwa Allah kecapekan dan lelah karena menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya dalam enam masa, lalu beristirahat pada hari Sabtu. Mereka juga mengklaim bahwa mereka telah menyalib Isa عليه السلام dan membunuhnya. Lain dari itu mereka menghalalkan berburu ikan pada hari Sabtu dengan suatu alasan, padahal Allah telah mengharamkan itu atas mereka. Mereka juga mengugurkan hukuman berzina pada orang yang telah menikah. Kemudian dari itu, di antara ucapan mereka, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

“Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” (Ali Imran: 181).
Dan,
“Tangan Allah terbelenggu.” (Al-Ma’idah: 64).

Serta penyimpangan-penyimpangan dan perubahan-perubahan lainnya baik berupa perkataan maupun perbuatan yang dilakukan tanpa berasarkan ilmu tapi karena mengikuti hawa nafsu.

Kemudian dari itu, klaim orang-orang Nashrani bahwa Isa عليه السلام adalah putra Allah, dan beliau juga tuhan di samping Allah. Mereka pun membenarkan kaum Yahudi yang mengklaim telah menyalib dan membunuh Isa عليه السلام. Kedua kaum ini pun mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya. Mereka mengingkari Muhammad صلی الله عليه وسلم dan semua yang diajarkannya, mendengki beliau karena kecenderungan terhadap diri mereka, padahal telah dikukuhkan perjanjian yang kokoh dari mereka bahwa mereka akan mempercayai beliau, membenarkannya dan menolongnya serta mengakuinya pada diri mereka. Dan hal-hal lainnya dari kedua kaum ini yang memalukan dan saling bertolak belakang.

Allah telah banyak menceritakan tentang kedustaan dan reka perdaya mereka serta penyimpangan dan pengubahan yang mereka lakukan terhadap apa yang diturunkan kepada mereka, baik dalam segi keyakinan maupun hukum. Allah telah mempermalukan mereka di sejumlah ayat KitabNya,

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. Dan mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja’. Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janjiNya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (Al-Baqarah: 79-80).

Dalam ayat lain disebutkan,

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, ‘Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar’.” (Al-Baqarah: 111).

Allah pun berfirman,
“Dan mereka berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’. Katakan-lah, ‘Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik’. Katakanlah (hai orang-orang mu’min), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya’.” (Al-Baqarah: 135-136).

Dalam ayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan, ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 78).

Dalam ayat lainnya disebutkan,
“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, ‘Hati kami tertutup’. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 155-158).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya.’ Katakanlah, ‘Maka mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakanNya.” (Al-Ma’idah: 18).

Dalam ayat lainnya disebutkan,
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang sungguh mengherankan karena kedustaan dan tolak belakangnya mereka serta betapa hina dan rendahnya mereka. Disebutkannya ayat-ayat ini maksudnya adalah menyebutkan contoh kondisi-kondisi mereka sebagai landasan jawaban berikut.

Ketiga: Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa asal agama-agama yang disyari’atkan Allah kepada para hambaNya adalah sama, tidak perlu didekatkan, dan sebagaimana telah diketahui bahwa kaum Yahudi dan Nashrani telah menyimpangkan dan merubah apa yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka, akibatnya agama mereka menjadi palsu, dusta, kufur dan sesat. Karena itulah Allah mengutus kepada mereka dan seluruh umat lainnya, Rasulullah Muhammad صلی الله عليه وسلم, untuk menjelaskan kebenaran yang telah mereka kikis, menyingkapkan kepada mereka apa yang mereka sembunyikan dan meluruskan pada mereka keyakinan-keyakinan dan hukum-hukum yang telah mereka rusak serta untuk menunjuki mereka serta umat lainnya ke jalan yang lurus.

Allah q berfirman,
“Hai ahli kitab, sesungguhnya telahd atang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepada mubanyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16).

Dalam ayat lain disebutkan,
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, ‘Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan’. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ma’idah: 19).

Tapi mereka malah menentang dan berpaling darinya karena sombong dan dengki yang timbul dari diri mereka sendiri setelah nyata kebenaran bagi mereka, sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى,

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109).

Dalam ayat lain disebutkan,
“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89).

Dalam ayat lainnya disebutkan,
“Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).” (Al-Baqarah: 101).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (Al-Qur’an).” (Al-Bayyinah: 1-2).

Bagaimana bisa seorang berakal berharap, padahal ia tahu kesinambungan mereka dalam kebatilan dan kecongkakan mereka yang hanyut dalam melampaui batas-batas dalam kondisi telah mendapat keterangan dan telah mengetahui, yang semua ini mereka lakukan karena kedengkian yang timbul dari diri mereka dan karena mengikuti hawa nafsu mereka, bagaimana bisa seorang berakal berharap mendekatkan mereka dengan kaum muslimin yang benar.

Allah سبحانه و تعالى berfirman,
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepada-mu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Al-Baqarah: 75).

Dalam ayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebe-naran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petun-juk (yang sebenarnya)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 119-120).

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka Allah tidak menunjuki orang-orang yang zhalim.” (Ali Imran: 86).

Bahkan, kalaupun tidak lebih kufur dan lebih memusuhi Allah dan RasulNya serta kaum muslim daripada kaum musyrikin, setidaknya mereka itu sama saja, Allah سبحانه و تعالى telah berfirman,

“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 8-9).

Dan berfirman pula,
“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku’.” (Al-Kafirun: 1-6).

Sesungguhnya, orang yang membujuk dirinya untuk memadukan atau mendekatkan antara Islam dengan Yahudi dan Nashrani seperti yang mendapati pada dirinya perpaduan dua hal yang saling bertolak belakang, antara yang haq dan yang batil, antara kekufuran dan keimanan, perumpamaannya tak ubahnya seperti dalam ungkapan:

“Wahai yang menikahkan Sahil dengan kejora,

Demi Allah, bagaimana keduanya bisa berpadu.

Dia seorang Syam jika sendiri,

Dan Sahil seorang Yaman jika sendiri.”

Keempat: Jika seseorang mengatakan, Apa mungkin penyelarasan antara mereka, atau mungkinkah mengadakan perdamaian untuk memelihara darah, melindungi wilayah-wilayah perang, menentramkan manusia dalam berjalan di muka bumi dan menjalani kehidupan serta mencari rizki, memakmurkan dunia dan menyerukan ajakan kepada kebenaran untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia.

Jika itu diungkapkan, tentu menjadi ungkapan yang terarah, hakikat usahanya adalah usaha yang berhasil, tujuannya merupakan tujuan yang mendapatkan respon dan dampaknya besar, namun harus dengan memelihara perealisasian kebenaran dan menolongnya, maka selayaknya hal itu bukan sekedar basa-basi kaum muslimin terhadap kaum musyrikin dengan melepaskan mereka dari hukum Allah atau dari kehormatan mereka dan merendahkan diri mereka, tapi dengan tetap mempertahankan kemuliaan mereka, berpegang teguh dengan Kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi mereka sebagai pelaksanaan petunjuk Al-Qur’an dan mengikuti Rasulullah صلی الله عليه وسلم yang mulia.

Allah سبحانه و تعالى berfirman,
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 61).

Dalam ayat lain disebutkan,
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 35).

Nabi صلی الله عليه وسلم telah menafsirkannya dalam bentuk praktek, di mana beliau mengadakan perdamaian dengan suku Quraisy pada tahun Hudaibiyah dan dengan kaum Yahudi di Madinah sebelum perang Khandaq serta dengan kaum Nashrani Romawi pada perang Tabuk. Hal tersebut melahirkan dampak yang besar dan nilai-nilai yang berharga, yaitu berupa keamanan, keselamatan jiwa, pertolongan terhadap kebenaran dan pengukuhannya di muka bumi, masuknya manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong serta terarahnya semua manusia dalam kehidupan agama dan dunia mereka. Sehingga hasilnya merupakan kelapangan, kedamaian dan kuatnya kekuasaan serta tersebarnya Islam dan keselamatan.

Sejarah dan realita kehidupan merupakan bukti terkuat dan saksi paling benar mengenai hal ini bagi yang jujur terhadap dirinya atau jujur dengan pendengarannya dan lurus pemikirannya serta terbebas dari fanatisme dan riya’. Sesungguhnya dalam hal ini terdapat peringatan bagi yang memiliki hati atau peduli bahwa ia itu sebagai bukti. Sesungguhnya hanya Allah lah yang menunjukkan ke jalan yang lurus, dan cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik penolong.

Kelima: Golongan Daruz, Nashiriyah, Isma’iliyah dan yang sealiran dengan mereka, telah mempermainkan nash-nash agama, menetapkan apa yang tidak diizinkan Allah bagi diri mereka, menempuh jalan kaum Yahudi dan Nashrani dalam merubah dan menyimpangkan nash, mengikuti hawa nafsu dan meniru sang pencetus bencana pertama, Abdullah bin Saba’ Al-Humairi, pemimpin para pelaku bid’ah, kesesatan dan pengusung petaka di antara kaum muslimin, yang mana kejahatan dan keburukannya telah merebak dan mengguncang banyak kelompok sehingga mereka kufur setelah memeluk Islam, kemudian karena itu melahirkan perpecahan di antara kaum muslimin.

Karena itu, seruan untuk mendekatkan antara kelompok-kelompok tersebut dengan golongan-golongan kaum muslimin yang benar adalah merupakan seruan yang tidak berguna. Upaya untuk merealisasikan pertemuan antara mereka dengan golongan yang benar dari kalangan kaum muslimin adalah merupakan upaya yang gagal, karena mereka, Yahudi dan Nashrani sama hatinya dipenuhi dengan keraguan, penentangan, kekufuran, kesesatan dan kedengkian terhadap kaum muslimin, walaupun alasan, tujuan dan kecenderungan mereka berbeda-beda, namun perumpamaan mereka dalam hal ini adalah seperti kaum Yahudi dan Nashrani terhadap kaum muslimin.

Adapun hal yang telah diusahakan oleh sekelompok ulama Azhar Mesir bersama golongan Syi’ah Rafidhah Iran sehubungan dengan akibat perang dunia kedua dan usaha pendekatan yang mereka propagandakan, telah menipu sebagian kecil ulama besar yang jujur, yaitu mereka yang hatinya bersih dan kehidupannya tidak pernah digoncang, lalu menerbitkan sebuah majalah yang mereka namai majalah pendekatan. Namun upaya mereka ini segera terbongkar sehingga upaya mereka pun gagal. Tidak diragukan lagi, bahwa hati mereka itu memang saling bersikukuh, fikiran mereka pun bergejolak, sementara keyakinan mereka saling bertentangan, maka sangat tidak mungkin memadukan dan mempertemukan antara dua hal yang saling bertolak belakang.

Hanya Allah-lah yang mampu memberi petunjuk. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Rujukan:
Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, juz. 4, hal. 80-87.
Disalin dari Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.

Kategori: Seputar Orang Kafir
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 17, 2013, in Seputar Orang Kafir. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: