Hukum Pembatas (Sutrah) Di Depan Orang Shalat

Hukum Pembatas (Sutrah) Di Depan Orang Shalat

Pertanyaan: Apa hukum membuat pembatas untuk shalat. Dan apakah yang berada di shaf kedua juga harus membuat pembatas tersendiri?

 
Jawaban:

Oleh Syaikh Ibnu Jibrin
Pengertian sutrah menurut istilah ialah menutup aurat, yaitu antara pusar hingga lutut bagi laki-laki dan seluruh tubuh bagi wanita. Ini termasuk syarat shalat, sehingga shalat itu tidak sah bagi orang yang mampu menutup auratnya tapi ia shalat dengan telanjang atau ada auratnya yang tampak. Jika memang tidak mampu menutup aurat maka itu dibolehkan, dan boleh juga shalat sambil duduk jika yang bisa menutup auratnya menuntut demikian.  Adapun sutrah yang berarti pembatas yang ditempatkan di depan orang yang shalat, hukumnya sunat, bukan wajib, yaitu dengan cara shalat di depan pagar atau dinding atau sesuatu yang lebih tinggi daripada lantai, seperti; tempat tidur atau kursi. Jika tidak ada, bisa dengan membuat garis lengkung seperti bulan sabit, ini bagi imam atau orang yang shalat sendirian. Hal ini perlu diperhatikan ketika sedang di lapangan, seperti dalam shalat Id atau dalam perjalanan.  Adapun di masjid, pada dasarnya tidak perlu, cukup dengan dinding-dinding masjid di setiap sisinya, bahkan cukup dengan karpet/sajadah yang tampak garis-garis shafnya, atau cukup dengan ujung sajadah/karpet yang dipakai alas shalat. Tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya hal ini. Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dalam kitab Sunan,

“Jika seseorang di antara kalian shalat menghadap pembatas, hendak-lah ia mendekat.”(Abu Dawud, kitab ash-Shalah (695), an-Nasa’i, kitab al-Qiblah (2/62, 63), Ahmad (214)).  Dalam hadits lain disebutkan,

“Jika seseorang di antara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari manusia, lalu ada seseorang yang hendak lewat di mukanya, maka hendaklah ia mencegahnya. Jika orang tersebut enggan (nekat), maka perangilah, karena sesungguhnya itu adalah setan.”(Al-Bukhari, kitab ash-Shalah (509), Muslim, kitab ash-Shalah (505)).  Wallahu a’lam.
Sumber: Al-Lu’lu’ Al-Makin, Syaikh Ibnu Jibrin, hal. 90. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Kategori: Shalat Sumber: http://fatwa-ulama.com
Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 17, 2013, in Sholat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: