Hukum Menangisi Mayat

Hukum Menangisi Mayat
Pertanyaan:
Di Sudan, banyak terjadi berbagai kemungkaran, bidah dan ritual-ritual, umpamanya tentang ritual, kami jumpai wanita-wanita yang meratapi mayat di keranda sekitar rumah duka. Bagaimana hukum syari’at mengenai hal ini?

Jawaban:

Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin

Yang saya ketahui dari syari’at, bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم melaknat wanita yang meratapi kematian, yaitu wanita yang menangisi mayat dengan suara yang mirip suara burung perkutut. Nabi صلی الله عليه وسلم melaknatnya karena ratapan itu mengandung perasaan sangat terpukul karena musibah dan sangat menyesal, dan setan meniupkan rasa marah terhadap takdir Allah ke dalam hati wanita.

Perkumpulan-perkumpulan yang diselenggarakan setelah meninggalnya si mayat yang mengandung jeritan dan ratapan, semuanya haram dan berdosa besar.

Seharusnya kaum muslimin rela dengan qadha’ dan qadar Allah. Dan jika seseorang tertimpa musibah, hendaklah mengucapkan,

إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللَّهُمَّ أَجِرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَاخْلُفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

(Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami kembali. Ya Allah berilah aku balasan pahala dalam musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah ini).

Jika seseorang mengucapkannya dengan niat yang tulus dan membenarkan Rasulullah صلی الله عليه وسلم, maka Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik daripada musibah yang menimpanya itu dan memberinya balasan pahala atas musibah tersebut.

Hal ini pernah dialami oleh Ummul Mukminin, Ummu Salamah -rodliallaahu’anha- ketika Abu Salamah (suaminya) meninggal, ia mengucapkan itu dengan penuh keimanan terhadap ucapan Nabi صلی الله عليه وسلم, saat itu ia mengucapkan: (Ya Allah berilah aku balasan pahala dalam musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah ini). (HR. Muslim dalam Al-Jana’iz (918)).

Lalu, apa yang terjadi? Allah memberinya pengganti yang lebih baik dari musibah itu, yaitu ketika selesai masa iddahnya, Rasulullah صلی الله عليه وسلم menikahinya. Tentunya, Nabi صلی الله عليه وسلم lebih baik daripada Abu Salamah di samping pahala di sisi Allah سبحانه و تعالى.

Maka, ketika seseorang tertimpa musibah, hendaknya sabar, tabah dan mengharapkan balasan pahala dari Allah سبحانه و تعالى.

Adapun pertemuan-pertemuan yang mengandung jeritan dan ratapan hukmnya haram, dan hendaknya kaum muslimin mengingkari dan menjauhinya.

Rujukan:
Nur ‘ala Ad-Darb, hal. 64-65, Syaikh Ibnu Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.

Kategori: Jenazah – Bidah
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on April 5, 2013, in Jenazah-Bid'ah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: