Hukum Mempropagandakan Kesatuan Agama (Pluralisme)

 Hukum Mempropagandakan Kesatuan Agama (Pluralisme)

Pertanyaan: Apakah hukum mempropagandakan kesatuan agama (Pluralisme)?
Jawaban:

Oleh Lajnah Daimah
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam atas (Muhammad) yang tiada Nabi setelahnya, keluarga, para sahabatnya serta orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, amma ba’du.  Sesungguhnya Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Penggodokan Fatwa (al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’) telah menggodok pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan kepadanya serta pendapat-pendapat dan artikel-artikel yang dipublikasikan di pelbagai media massa berkenaan dengan propaganda kepada “Kesatuan Agama (pluralisme)”, yaitu antar agama Islam, Yahudi dan Nasrani. Demikian pula dengan buntut dari itu yang berupa propaganda untuk sama-sama membangun masjid, gereja dan tempat ibadah Yahudi (sinagog) di satu lokasi, baik itu di kampus-kampus, bandara-bandara atau pun di lokasi-lokasi umum; mencetak al-Qur’an al-Karim, Taurat dan Injil dalam satu sampul serta hal-hal lainnya yang terkait dengan implikasi dari seruan tersebut yang disampaikan melalui berbagai muktamar, seminar dan organisasi baik di Timur maupun di Barat.  Setelah melalui renungan dan kajian, Lajnah mengeluarkan keputusan sebagai berikut:  Pertama, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam, yang sangat esensial untuk diketahui serta telah merupakan konsensus (ijma’) kaum Muslimin adalah menyatakan bahwa hanya Islamlah dien yang haq di muka bumi ini, tidak ada agama yang haq selainnya, ia adalah penutup semua agama dan penghapus seluruh agama, aliran dan syariat sebelumnya.  Dengan demikian, tidak ada lagi agama yang diperuntukkan beribadah kepada Allah selain Islam, Allah berfirman,  “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85).  Yang dimaksud dengan Islam yang datang setelah diutusnya Muhammad صلی الله عليه وسلم tersebut adalah agama yang dibawanya, bukan agama selainnya.  Kedua, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam adalah menyatakan bahwa kitabullah “al-Qur’an al-Karim” merupakan kitab Allah terakhir yang diturunkan dan diakui oleh Rabb semesta alam. Ia adalah nasikh (penghapus) dan muhaimin (batu ujian) terhadap setiap kitab yang diturunkan sebelumnya baik itu Taurat, Zabur, Injil dan selainnya.  Dengan demikian, tidak ada lagi kitab yang diturunkan dan diperuntukkan beribadah kepada Allah selain al-Qur’an al-Karim, Allah berfirman, ‏ “Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maidah: 48).  Ketiga, wajib mengimani bahwa (Taurat dan Injil) telah dihapus oleh al-Qur’an al-Karim dan keduanya telah mengalami perubahan dan penggantian baik berupa tambahan ataupun pengurangan sebagaimana yang dijelaskan oleh banyak ayat di dalam Kitabullah, di antaranya; firman Allah سبحانه و تعالى,

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).”(Al-Maidah: 13).  Demikian juga firmanNya,  “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79).  Dan firmanNya yang lain,  “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan, “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78).  Oleh karena itu, bila ada di antara isi kitab-kitab tersebut ajaran yang masih murni, maka (dengan sendirinya) ia telah dihapus oleh Islam sedangkan yang selain itu berarti telah dirubah atau diganti.  Dalam hadits yang shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم dinyatakan bahwa beliau صلی الله عليه وسلم marah kepada Umar bin al-Khaththab -rodliallaahu’anhu- ketika beliau melihat bersamanya ada shahifah (lembaran) yang berisi sedikit ajaran Taurat, beliau صلی الله عليه وسلم bersabda, “Masih ragukah engkau wahai Ibnu al-Khaththab? Bukankahkah aku telah membawanya dalam keadaan putih lagi bersih? Andaikan saudaraku, Musa, masih hidup tentu tidak ada pilihan lain baginya selain mengikutiku.”  Keempat, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam adalah menyatakan bahwa Nabi dan Rasul kita, Muhammad صلی الله عليه وسلم adalah penutup para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى,  “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Al-Ahzab: 40).  Jadi, tidak ada lagi Rasul yang wajib diikuti selain Muammmad صلی الله عليه وسلم dan andaikata ada di antara para Nabi صلی الله عليه وسلمllah dan RasulNya yang masih hidup, pastilah dia akan mengikuti beliau صلی الله عليه وسلم -demikian pula dengan para pengikut mereka- sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى,  “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianKu terhadap yang demikian itu.” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali ‘Imran: 81).  Bahkan Nabi صلی الله عليه وسلمllah, Isa عليه السلام pun bila turun di akhir zaman nanti akan menjadi pengikuti Muhammad صلی الله عليه وسلم dan memerintah dengan syariat beliau, Allah سبحانه و تعالى berfirman,  “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (Al-A’raf: 157).  Demikian pula, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam adalah menyatakan bahwa Muhammad صلی الله عليه وسلم diutus kepada seluruh umat manusia, Allah سبحانه و تعالى berfirman,  “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia se-luruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28).

“Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158).  Dan banyak lagi ayat-ayat yang lainnya.  Kelima, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam adalah wajibnya meyakini kekufuran semua orang yang tidak masuk ke dalam Islam, baik mereka itu orang-orang Yahudi, Nasrani atau pun selain mereka dan (wajib pula) menyebut mereka sebagai kafir, mu-suh Allah, RasulNya dan kaum Mukmin, serta sebagai penghuni neraka, sebagaimana firmanNya,  “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (menga-takan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 1).  Juga firmanNya,  “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6), serta banyak lagi ayat-ayat yang lain.  Telah bersumber secara shahih di dalam kitab Shahih Muslim bahwasanya Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Demi Yang jiwaku berada ditanganNya, tidak ada seorang pun yang mendengar perihalku di kalangan umat ini, baik yahudi maupun nashrani, kemudian dia meninggal dunia namun tidak beriman kepada wahyu yang aku diutus dengannya, melainkan dia akan menjadi penghuni neraka.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam kitab al-Iman, no. 153).  Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka dia telah kafir, berdasarkan cakupan kaidah syariah:

مَنْ لَمْ يُكَفِّرِ الْكَافِرَ فَهُوَ كَافِرٌ
“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, maka dia telah kafir.”  Keenam, merujuk kepada prinsip-prinsip akidah dan hakikat-hakikat syara’ tersebut, maka propaganda kepada kesatuan agama (pluralisme) dan pendekatan antar agama dengan meleburkannya ke dalam satu cetakan merupakan propaganda kotor dan makar yang bertujuan mencampuradukkan antara al-haq dan bathil, menghancurkan Islam dan meluluhlantakkan sendi-sendinya serta menggiring penganutnya menuju pemurtadan massal. Hal ini sebagaimana yang dibenarkan oleh firman Allah سبحانه و تعالى,
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217).  Juga, firmanNya سبحانه و تعالى,  “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (An-Nisa’: 89).  Ketujuh, di antara implikasi dari propaganda dosa ini adalah menghilangkan adanya perbedaan antara Islam dan kekufuran, al-haq dan bathil, ma’ruf dan munkar serta menghancurkan tonggak pembatas yang selama ini memisahkan antara kaum Muslimin dan kaum kafir sehingga tidak ada lagi konsep wala’ (loyalitas mutlak kepada Allah, RasulNya dan kaum Mukminin) dan bara’ (berlepas diri dari selain itu) serta tidak ada lagi konsep jihad dan perang untuk meninggikan kalimat Allah di bumiNya padahal Allah Yang Mahaagung dan Mahasuci telah berfirman,  “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29).  Demikian juga dengan firmanNya,  “Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36).  Kedelapan, bahwa bila propaganda kepada kesatuan agama (pluralisme) tersebut bersumber dari seorang Muslim, maka ini di-anggap sebagai kemurtadan nyata dari Dienul Islam sebab hal tersebut berbenturan dengan prinsip-prinsip akidah, ridha terhadap kekufuran kepada Allah سبحانه و تعالى, membatalkan kebenaran al-Qur’an yang menghapus seluruh kitab-kitab sebelumnya serta membatalkan penghapusan Islam terhadap semua syariat dan agama sebelumnya.  Maka berdasarkan hal itu, propaganda tersebut adalah tak lebih dari faham yang tertolak secara syar’i dan secara qath’iy (pasti dan final) diharamkan oleh semua sumber-sumber pensyariatan dalam Islam; Al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’.  Kesembilan, berlandaskan kepada prinsip-prinsip di atas, maka:
Seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien dan Muhammad sebagai nabi dan rasul tidak boleh mempropagandakan paham dosa tersebut, mensupportnya, memuluskan jalannya bagi kaum Muslimin apalagi sampai menyambutnya, berpartisipasi di dalam muktamar-muktamar dan seminar-seminarnya serta berafiliasi kepada club-clubnya.
Mencetak Taurat dan Injil secara terpisah saja, seorang Muslim dilarang melakukannya, apalagi tentunya bila dijadikan satu sampul bersama al-Qur’an. Barangsiapa yang melakukan atau mempropagandakan hal itu maka dia telah terjerumus ke dalam kesesatan yang teramat jauh, sebab hal itu sama artinya dengan mengumpulkan antara kitab al-haq (al-Qur’an al-Karim) dan kitab yang telah dirubah atau kitab yang asalnya haq juga tetapi telah dinasakh (dihapus) yaitu kitab Taurat dan Injil.
Demikian juga, seorang Muslim tidak boleh menyambut propaganda agar membangun masjid, gereja dan sinagog dalam satu lokasi karena hal itu merupakan pengakuan terhadap agama selain Islam yang diperuntukkan beribadah kepada Allah, mengingkari kemenangan Islam atas seluruh agama serta propaganda materialistik yang ingin menyatakan bahwa agama ada tiga; apapun agamanya, penghuni bumi boleh menganutnya karena semuanya adalah sama, serta ingin menyatakan bahwa Islam bukanlah penghapus agama-agama sebelumnya.
Tidak diragukan lagi bahwa mengakui hal itu, meyakininya atau ridha terhadapnya merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan karena sangat jelas bertentangan dengan al-Qur’an al-Karim, as-Sunnah yang suci serta konsensus (ijma’) kaum Muslimin, di samping pengakuan bahwa perubahan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah bersumber dari Allah, sungguh Mahasuci Allah dari hal tersebut. Kemudian, tidak boleh pula menamakan gereja-gereja tersebut sebagai Buyutullah (rumah-rumah Allah) dan (menyatakan) bahwa pemeluknya melakukan ibadah juga kepada Allah dengan secara benar dan diterima di sisiNya di tempat tersebut, sebab hal itu merupakan ibadah yang dilakukan oleh selain agama Islam padahal Allah telah berfirman,  “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85).  Rumah-rumah tersebut adalah rumah-rumah tempat berbuat kekufuran terhadap Allah -na’udzu billah dari kekufuran dan para pengikutnya-. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah 5 berkata di dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (XXII: 162):  “(Sinagog-sinagog dan gereja-gereja tersebut) bukanlah Buyu-tullah (rumah-rumah Allah) akan tetapi masjid-masjidlah Buyutullah. Rumah-rumah tersebut hanyalah tempat berbuat kekufuran terhadap Allah, meskipun terkadang namaNya disebut di situ. Rumah-rumah tersebut posisinya sama seperti para penghuninya di mana para penghuninya adalah orang-orang kafir, maka dengan begitu, itu adalah rumah-rumah ibadah orang-orang kafir.”  Kesepuluh, di antara hal yang wajib diketahui bahwa mengajak orang-orang kafir secara umum, dan Ahlul Kitab secara khusus kepada Islam adalah wajib hukumnya atas kaum Muslimin berdasarkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang jelas, akan tetapi hendaknya hal itu dilakukan dengan cara menyampaikan penjelasan, berdebat dengan cara yang lebih baik serta tidak boleh sedikit pun mundur dari syariat Islam.  Dengan cara tersebut diharapkan dapat membuat mereka puas terhadap Islam dan memeluknya, atau berarti telah menegakkan hujjah atas mereka sehingga binasalah (kufurlah) orang yang binasa (kafir) dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah (beriman-lah) orang yang hidup (beriman) karena keterangan yang jelas pula, Allah berfirman,  “Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kali-mat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka kata-kanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” ( Ali ‘Imran: 64).  Adapun berdebat, mengadakan pertemuan dan berdialog dengan mereka demi mengikuti kata hati mereka, merealisasikan tujuan-tujuan mereka serta untuk mengurai buhul-buhul Islam dan iman; maka hal ini adalah perbuatan yang bathil, yang tidak dike-hendaki oleh Allah, RasulNya serta orang-orang yang beriman. Dan hanya kepada Allahlah tempat memohon pertolongan dari segala apa yang mereka sifatkan. Allah berfirman,  “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. ” (Al-Ma’idah: 49).  Maka dari itu, manakala Lajnah menetapkan fatwa tersebut dan menjelaskannya kepada manusia, semata-mata hal itu dimaksudkan untuk berwasiat kepada kaum Muslimin umumnya, dan para ulama khususnya, agar bertakwa kepada Allah سبحانه و تعالى dan bermuraqabah, melindungi Islam dan akidah kaum Muslimin dari kesesatan dan para propagandis serta para pengikutnya dari kekufuran serta memperingatkan mereka terhadap propaganda kufur dan sesat semacam “Kesatuan Agama (Pluralisme)”, serta keterjerumusan ke dalam perangkap-perangkapnya.  Kami memohon perlindungan kepada Allah agar setiap Muslim tidak menjadi penyebab dibawanya kesesatan ini ke negara-negara Islam dan mempromosikannya di antara mereka.  Kami juga, memohon kepada Allah سبحانه و تعالى dengan Asma’ Husna-Nya dan shifatNya Yang Mahatinggi agar melindungi kita semua dari finah-fitnah yang menyesatkan dan menjadikan kita sebagai para pemberi petunjuk dan orang-orang yang diberi petunjuk serta pelindung Islam yang berjalan di atas petunjuk dan cahaya Rabb kita hingga kita menemui Nya dalam kondisi Allah سبحانه و تعالى ridha terhadap kita.  Wabillaahit taufiq wa shallallaahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Sumber: Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Kategori: Aqidah Sumber: http://fatwa-ulama.com
Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

About hang puriah

Alhamdulillah Segala Puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah melimpahkan nikmatNya [ Nikmat Iman, Islam, dan As-Sunnah ] | Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | Allahumma Sholi'ala Muhammad waalaali muhammad | dan Mereka-Mereka [ salaf dan khalaf ] yang menggadaikan hidupnya untuk mempelajari memahami agama yang Haq ini sehingga kita di akhir zaman ini mendapatkan cahaya-cahaya islam | Biiznilaah | Semoga Allah Azzawalla merahmati mereka semua | Dan Seindah-indah nikmat adalah nikmat hidup dan mati di atas As-Sunnah | Karena inilah jalannya yang tertunjuki yang dibawa Nabi Sholaulah 'alaihi Wasalam | mari kita mengikuti mereka selangkah demi selangkah | Walaupun kita (khusus lebih khusus) tidak berilmu, dan tidak akan sanggup beramal (istiqomah) seperti mereka, waallahu waliyy at-taufig

Posted on March 6, 2013, in Aqidah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: